Fokus utama dari kegiatan ini adalah pelaksanaan simulasi gempa yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari siswa, guru, hingga staf kependidikan. Latihan ini dirancang sedemikian rupa agar mendekati kondisi nyata. Bunyi sirine tanda bahaya menjadi pemicu dimulainya prosedur penyelamatan diri. Di SMPN 1 Kranggan, simulasi ini tidak hanya dilakukan sekali setahun, tetapi menjadi agenda rutin untuk memastikan respons refleks siswa tetap terjaga. Para siswa diajarkan bahwa dalam detik-detik pertama terjadinya guncangan, ketenangan adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.

Salah satu materi inti yang dipraktikkan secara intensif adalah teknik berlindung yang benar. Siswa diberikan pemahaman bahwa ancaman terbesar saat gempa di dalam ruangan bukanlah robohnya bangunan secara utuh, melainkan jatuhnya material plafon, lampu, atau kaca jendela. Oleh karena itu, gerakan “Drop, Cover, and Hold on” menjadi prosedur standar yang wajib dikuasai. Siswa diajarkan untuk segera merunduk dan mencari perlindungan di bawah furnitur yang kokoh. Pilihan utama yang paling efektif di dalam ruang kelas adalah masuk dan berlindung di bawah meja masing-masing sambil memegang kaki meja dengan erat agar pelindung tersebut tidak bergeser saat guncangan hebat terjadi.

Kegiatan di Kranggan ini juga menekankan pentingnya melindungi bagian tubuh yang paling vital, yaitu kepala dan leher. Jika tidak ada meja di dekat mereka, siswa diarahkan untuk merunduk di dekat dinding bagian dalam yang jauh dari kaca dan menutupi kepala dengan tas atau tangan. Instruktur simulasi memberikan koreksi langsung jika ada siswa yang masih melakukan gerakan salah, seperti berlari terburu-buru menuju pintu keluar saat guncangan masih berlangsung. Kesalahan kecil dalam prosedur penyelamatan bisa berakibat fatal, sehingga akurasi gerakan sangat ditekankan dalam pelatihan ini.

Selain aspek teknis, simulasi di SMPN 1 Kranggan ini juga melatih mentalitas kepemimpinan bagi pengurus OSIS dan ketua kelas. Mereka diberikan tanggung jawab untuk membantu menenangkan teman-temannya dan memastikan tidak ada siswa yang tertinggal di dalam ruangan setelah guncangan mereda. Proses evakuasi menuju titik kumpul dilakukan dengan tertib, tanpa saling mendahului, mengikuti jalur yang telah ditentukan. Hal ini melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab kolektif. Sekolah ingin memastikan bahwa prosedur gempa ini menjadi bagian dari budaya keselamatan yang melekat dalam sanubari setiap individu.

Kategori: Pendidikan