Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara remaja berinteraksi, namun sayangnya perubahan ini sering kali dibarengi dengan penurunan kualitas etika dalam berkomunikasi di ruang publik digital. Menanggapi fenomena tersebut, SMPN 1 Kranggan mengambil inisiatif untuk mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam dunia maya melalui program pendidikan karakter khusus. Sekolah ini menyadari bahwa perilaku di media sosial mencerminkan kepribadian seseorang di dunia nyata. Oleh karena itu, penanaman nilai sopan santun digital menjadi agenda utama untuk memastikan bahwa para siswa mampu membawa diri dengan baik saat berinteraksi di berbagai platform media sosial yang penuh dengan dinamika.

Program ini dimulai dengan memberikan pemahaman dasar bahwa di balik layar monitor atau ponsel, ada manusia nyata yang memiliki perasaan. Guru-guru di sekolah ini secara rutin mengadakan sesi diskusi mengenai dampak dari setiap kata yang diketik di kolom komentar. Siswa diajarkan bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menghujat atau merendahkan orang lain. Dengan memberikan batasan yang jelas, sekolah berupaya agar siswanya gak jadi ‘netizen toxic’ yang sering kali meresahkan masyarakat digital. Edukasi ini mencakup cara merespons perbedaan pendapat secara kepala dingin, menghindari penggunaan bahasa kasar, hingga tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya atau hoaks.

Selain aspek bahasa, SMPN 1 Kranggan juga menekankan pentingnya menjaga privasi, baik privasi diri sendiri maupun orang lain. Siswa dilatih untuk berpikir dua kali sebelum mengunggah konten yang berpotensi memicu konflik atau melanggar norma kesusilaan. Melalui simulasi kasus, siswa diajak untuk melihat dampak jangka panjang dari sebuah unggahan yang tidak bijak terhadap reputasi mereka di masa depan. Pendidikan sopan santun digital ini bukan hanya bertujuan untuk menjaga ketertiban di dunia maya, tetapi juga untuk melindungi mentalitas siswa dari paparan kebencian yang sering terjadi di internet. Sekolah ingin menciptakan ekosistem belajar yang positif, di mana teknologi menjadi sarana untuk saling menginspirasi, bukan menjatuhkan.

Peran orang tua juga dilibatkan secara aktif melalui seminar rutin mengenai pendampingan anak di dunia digital. Sinergi antara sekolah dan rumah sangat penting agar aturan yang diterapkan di kelas juga dijalankan saat anak berada di rumah. Dengan pengawasan yang edukatif, siswa mulai memahami bahwa profil digital mereka adalah aset yang harus dijaga dengan perilaku yang baik. Gerakan untuk gak jadi ‘netizen toxic’ ini menjadi identitas baru bagi siswa di sekolah ini, di mana mereka dikenal sebagai pelopor perdamaian di internet. Mereka didorong untuk menggunakan jempol mereka guna menyebarkan konten positif, memberikan apresiasi pada karya orang lain, dan menjadi penengah saat terjadi perselisihan daring.

Kategori: Pendidikan